Tahapan setelah kematian

Go down

Tahapan setelah kematian

Post by phooey777 on Wed Jun 26, 2013 11:31 am

Mau nanya ke teman2 berdasarkan pandangan Katolik.
Setelah seseorang meninggal, tahapan apa yang ia lalui.

1. Pengadilan khusus
2. Pengadilan umum
3. Purgatory
4. Biasanya 40 hari setelah seseorang meninggal, rohnya masih disekitar rumah ?
5. Kebangkitan badan


Tolong dibantu pencerahannya Smile
avatar
phooey777

Jumlah posting : 4
Join date : 17.06.13

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tahapan setelah kematian

Post by St Yopi on Wed Jul 03, 2013 3:52 pm

phooey777 wrote:Mau nanya ke teman2 berdasarkan pandangan Katolik.
Setelah seseorang meninggal, tahapan apa yang ia lalui.

1. Pengadilan khusus
2. Pengadilan umum
3. Purgatory
4. Biasanya 40 hari setelah seseorang meninggal, rohnya masih disekitar rumah ?
5. Kebangkitan badan


Tolong dibantu pencerahannya Smile
http://styopi.blogspot.com/2013/07/kebangkitan-badan-pengadilan-khusus.html
avatar
St Yopi

Jumlah posting : 9
Join date : 13.06.13

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tahapan setelah kematian

Post by phooey777 on Thu Jul 04, 2013 6:54 am

St Yopi wrote:
phooey777 wrote:Mau nanya ke teman2 berdasarkan pandangan Katolik.
Setelah seseorang meninggal, tahapan apa yang ia lalui.

1. Pengadilan khusus
2. Pengadilan umum
3. Purgatory
4. Biasanya 40 hari setelah seseorang meninggal, rohnya masih disekitar rumah ?
5. Kebangkitan badan


Tolong dibantu pencerahannya Smile
http://styopi.blogspot.com/2013/07/kebangkitan-badan-pengadilan-khusus.html


Agustinus, yang mengatakan “Begitu jiwa meninggalkan tubuh, maka jiwa tersebut diadili“. Hal ini sesuai juga dengan pengajaran di Alkitab, seperti yang kita lihat pada kisah yang dialami oleh Lazarus dan orang kaya itu setelah kematian mereka (lih. Luk 16:16-31). Rasul Paulus mengajarkan, “…manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibr 9: 27). Maka di saat kematian kita kita akan diminta pertanggungan jawab atas urusan kita (lih. Luk 16:2). Kita akan diadili oleh Tuhan menurut perbuatan kita (1 Pet 1:17, Rom 2:6). Jika Tuhan sendiri mengajarkan bahwa gaji pekerja tidak boleh ditunda (lih Im 19:13), maka Ia sendiri pasti memenuhi peraturan tersebut, dan Ia akan memberi penghargaan kepada mereka yang telah melakukan tugasnya di dunia dengan setia seturut perintah-perintah-Nya. Maka seperti kata St. Ambrosius, “Kematian adalah penghargaan perbuatan baik, mahkota dari panen.”
Tuhan Yesus akan duduk sebagai Hakim (lih. Yoh 5:22). Pada Perjamuan Terakhir, Yesus berjanji kepada para rasul-Nya untuk datang kembali setelah kenaikan-Nya ke surga dan untuk membawa mereka kepada diri-Nya (lih. Yoh 14:3).

Ada yang mempercayai, seseorang yang telah meninggal selama 40 hari rohnya masih tidak jauh2 dari tempat tinggalnya.
Kalo dilihat relevansinya dengan kenaikan Tuhan Yesus setelah 40 hari dari kebangkitan.
Apakah pada saat 40 hari tersebut, yang telah meninggal tidak langsung diadili secara khusus ?
Ataukah didalam dimensi kematian, dimensi waktu sudah tidak berlaku sehingga bisa jadi 40 hari, pengadilan khusus, kebangkitan badan dan pengadilan akhir berjalan secara bersamaan ??

Cool 

Mohon pencerahan nya Mod Yopi
avatar
phooey777

Jumlah posting : 4
Join date : 17.06.13

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tahapan setelah kematian

Post by St Yopi on Fri Jul 12, 2013 9:59 am

Pada dasarnya, angka 40 (empat puluh) mempunyai arti yang cukup istimewa didalam Gereja, termasuk angka-angka lainnya.

Katekismus Gereja Katolik

Percobaan Yesus
538 Injii-injil berbicara tentang waktu kesendirian yang Yesus lewati di sebuah tempat sunyi, langsung sesudah pembaptisan-Nya oleh Yohanes : "Dibawa" oleh Roh Kudus ke padang gurun, Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari, tanpa makan. Ia hidup di antara binatang-binatang buas, dan malaikat-malaikat melayani-Nya . Pada akhirnya setan mencobai-Nya sebanyak tiga kali, dengan berusaha menggoyahkan sikap keputeraan Yesus terhadap Allah. Yesus menampik serangan-serangan ini, dalamnya cobaan Adam di firdaus dan cobaan Israel di padang gurun sekali lagi diangkat ke permukaan, dan setan mundur dari hadapan-Nya, supaya kembali lagi "pada waktunya" (Luk 4:13). 394, 518
539 Injil-injil menunjukkan arti keselamatan dari kejadian yang penuh rahasia ini. Yesus adalah Adam baru, yang tetap setia, sedangkan Adam pertama menyerah kepada percobaan. Yesus melaksanakan perutusan Israel secara sempurna. Bertentangan dengan mereka yang dulu selama empat puluh tahun di padang gurun menantang Allah Bdk. Mrk 3:27., Kristus memperlihatkan Diri sebagai Hamba Allah, yang taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Dengan demikian Yesus adalah pemenang atas setan: ia sudah "mengikat orang kuat", untuk merampas kembali darinya jarahannya Bdk. Mat 16:21-23.. Kemenangan Kristus atas penggoda di padang gurun mendahului kemenangan kesengsaraan, bukti ketaatan cinta-Nya yang paling tinggi sebagai anak kepada Bapa-Nya. 397, 385, 609
540 Percobaan itu menunjukkan, atas cara apa Putera Allah itu Mesias, bertentangan dengan peranan yang setan usulkan kepada-Nya dan di mana manusia lebih senang melihatnya Bdk. LG 3.. Karena itu Kristus mengalahkan penggoda demi kita. "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibr 4:15). Oleh masa puasa selama empat puluh hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.
Yesus dan Kenisah

583 Sebagaimana para nabi sebelumnya, demikian pun Yesus menunjukkan penghormatan yang sangat dalam kepada kenisah Yerusalem. Empat puluh hari sesudah kelahiran-Nya Ia dipersembahkan di sana kepada Allah oleh Yosef dan Maria Bdk. Luk 2:22-39.. Dalam usia dua belas tahun Ia memutuskan untuk tinggal di kenisah, supaya mengingatkan orang-tua-Nya bahwa Ia harus berada di rumah Bapa-Nya Bdk. Luk 2:46-49.. Selama kehidupan-Nya yang tersembunyi Ia pergi setiap tahun paling kurang pada pesta Paskah ke kenisah Bdk. Luk 2:41.. Karya-Nya di muka umum terjadi dalam irama ziarah-ziarah-Nya ke Yerusalem pada hari-hari raya Yahudi yang besar Bdk. Yoh 2:13-14; 5:1.5:14; 7:1.7:10.7:14; 8:2; 10:22-23..
YESUS "YANG NAIK KE SURGA, DUDUK DI SISI KANAN ALLAH BAPA YANG MAHAKUASA"

659 "Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah" (Mrk 16:19). Tubuh Kristus telah dimuliakan pada saat kebangkitan, seperti dibuktikan oleh sifat-sifat baru dan adikodrati, yang dimiliki tubuh-Nya mulai sekarang dan seterusnya Bdk. Luk 24:31; Yoh 20:19.26.. Tetapi selama empat puluh hari, di mana Ia dengan ramah makan dan minum bersama murid-murid-Nya Bdk. Kis 10:41. dan mengajarkan Bdk. Kis 1:3. mereka mengenai Kerajaan Allah, kemuliaan-Nya masih terselubung dalam sosok tubuh seorang manusia biasa Bdk. Mrk 16:12; Luk 24:15; Yoh 20:14-15; 21:4.. Penampakan Kristus lantas berakhir dengan masuknya kodrat manusiawi-Nya secara definitif ke dalam kemuliaan ilahi, yang dilambangkan oleh awan Bdk. Kis 1:9; bdk. juga Luk 9:34-35; Kel 13:22. dan langit Bdk. Luk 24:51.. Di sana Yesus duduk di sebelah kanan Allah <<71>>. Sebagai kekecualian - dan hanya satu kali - Ia menunjukkan Diri dalam suatu penampakan terakhir kepada Paulus - seperti kepada anak yang "lahir cacat" (1 Kor I5:8 ) - dan menjadikan dia rasul Bdk. 1 Kor 9:1; Gal 1:16..

Penjelasan yang benar mengenai 40 hari setelah kematian adalah:

1687 Salam untuk jemaat. Salam imam membuka upacara. Sanak keluarga dari orang yang mati mendapat salam berupa perkataan "hiburan" [dalam arti Perjanjian Baru: kekuatan Roh Kudus dalam harapan]. Bdk. 1 Tes 4:18. Jemaat yang berkumpul dan berdoa juga mengharapkan "kata-kata hidup abadi". Kematian seorang anggota jemaat (atau hari ulang tahun kematian ataupun hari ketujuh dan keempat puluh sesudah kematian) merupakan kesempatan untuk mengarahkan pandangan melewati cakrawala dunia ini. Ia harus mengantarkan umat beriman kepada pengertian yang benar dalam iman akan Kristus yang telah bangkit.

1 Tesalonika
4:13. Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.
4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.
4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;
4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.
4:18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

Mengenai arwah atau jiwa atau roh:

Menurut St. Thomas, para Malaikat itu adalah ciptaan Tuhan yang berada di atas kita (manusia), karena mereka adalah mahluk yang murni rohani, tidak terbatas oleh tubuh dan organ penglihatan untuk mengetahui sesuatu.

Ketika kita telah wafat, kita hampir serupa dengan Malaikat kecuali dalam hal dosa, Malaikat yang berdosa telah menjadi iblis, sedangkan Malaikat tetap suci murni.

St. Thomas Aquinas, Summa Theology, Part II, q.62, a.1: (seperti biasa, St. Thomas menuliskan dahulu keberatan- keberatan tentang topik yang dibicarakan, dan baru kemudian menjelaskan jawabannya)

Artikel 1. Apakah para malaikat diciptakan dalam kondisi melihat Allah dengan sempurna (beatitude)?

Keberatan 1. Kelihatannya para malaikat diciptakan dalam kondisi melihat Allah (beatitude). Sebab dikatakan ((De Eccl. Dogm. xxix) bahwa “para malaikat yang terus berada dalam kondisi beatitude di mana di dalamnya mereka diciptakan, tidak dari kodratnya mempunyai kesempurnaan yang mereka miliki. Karena itu para malaikat diciptakan di dalam beatitude.

Keberatan 2. Selanjutnya kodrat malaikat lebih sempurna daripada ciptaan yang bertubuh (corporeal). Tetapi ciptaan yang bertubuh, sesaat setelah penciptaannya dibuat dengan sempurna dan lengkap… seperti dikatakan oleh St. Agustinus (Gen. ad lit, i, 15). Oleh karena itu, Tuhan tidak menciptakan kodrat malaikat dengan tidak sempurna dan tidak lengkap. Sebab pembentukan dan kesempurnaan diperoleh dari kondisi melihat Tuhan… Karena itu, malaikat diciptakan dalam kondisi beatitude.

Keberatan 3. Selanjutnya menurut St. Agustinus (Gen ad lit. IV, 34; v,5), semua ciptaan diciptakan dalam enam hari, diciptakan bersama- sama pada saat yang sama; sehingga seluruh enam hari pasti terjadi segera sejak saat permulaan penciptaan dunia. Tetapi menurut penjelasannya, di dalam enam hari tersebut, “pagi hari” adalah pengetahuan para malaikat, yang olehnya mereka mengetahui Sang Sabda dan segala sesuatu di dalam Sang Sabda. Oleh karena itu, segera setelah penciptaan mereka, mereka mengetahui Sang Sabda, dan segala sesuatu di dalamNya. Tetapi kebahagiaan para malaikat tercapai melalui melihat Sang Sabda. Karenanya, para malaikat berada dalam kondisi beatitude (melihat Allah) sejak dari awal mula penciptaan mereka.

Sebaliknya, untuk didirikan atau diteguhkan di dalam kebaikan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh kodrat beatitude. Tetapi para malaikat tidak diteguhkan di dalam kebaikan sesaat setelah mereka diciptakan; kejatuhan beberapa dari mereka [ke dalam dosa menolak Allah] menunjukkan tentang ini. Oleh karena itu, para malaikat tidak diciptakan dalam kondisi melihat Allah dengan sempurna (beatitude) pada saat mereka diciptakan.

Saya menjawab bahwa, Dengan istilah beatitude maksudnya adalah puncak kesempurnaan dari rasio atau dari kodrat intelektual; dan karenannya, hal itu adalah sesuatu yang diinginkan secara kodrati, sebab setiap ciptaan secara kodrati menginginkan puncak kesempurnaan. Sekarang, terdapat dua sisi dalam sebuah puncak kesempurnaan rasio atau kodrat intelektual. Yang pertama adalah yang dapat diperoleh melalui kekuatan kodrati dari diri sendiri; dan ini disebut sebagai beatitude atau kebahagiaan. Oleh karena itu Aristotle (Ethic. x) mengatakan bahwa puncak kebahagiaan manusia terletak pada kontemplasi yang paling sempurna, di mana di dalam hidup ini seseorang dapat memandang obyek yang dimengerti dengan sempurna; dan obyek itu adalah Allah. Di atas kebahagiaan ini masih ada sesuatu yang lain, yang kita nantikan di masa yang akan datang, di mana “kita melihat Tuhan sebagaimana adanya Dia”. Ini adalah sesuatu yang di atas kodrat setiap mahluk rasional (lih, q.12,a.4).

Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa mengenai kebahagiaan yang pertama ini, di mana malaikat dapat memperolehnya dengan kekuatan kodratinya, ia diciptakan dalam keadaan terberkati. Sebab malaikat tidak memperoleh kebahagiaan melalui rangkaian tindakan, seperti yang dilakukan manusia, tetapi seperti yang telah dibahas di atas, (58,3,4) kebahagiaan tersebut telah dimiliki sesaat setelah diciptakan, sesuai dengan kodrat martabatnya. Tetapi sejak dari penciptaannya, para malaikat tidak mempunyai puncak kebahagiaan yang hanya dapat dicapai di luar kekuatan kodratinya; sebab kebahagiaan sedemikian (beatitude/ beatific vision) tidak menjadi bagian dari kodrat mereka tetapi sebagai tujuan akhirnya; dan akibatnya, mereka tidak memilikinya segera dari saat awal mula mereka diciptakan.

Jawaban terhadap keberatan 1. Beatitude/ kebahagiaan di sini diartikan adalah sebagai kesempurnaan kodrat yang dimiliki oleh malaikat di dalam tingkat kemurnian (state of innocence).

Jawaban terhadap keberatan 2. Mahluk yang bertubuh (corporeal) segera pada awal penciptaan tidak dapat mempunyai kesempurnaan yang [baru dapat] dicapainya melalui proses operasi/ perbuatan; akibatnya, menurut St. Agustinus (Gen. ad. lit. v, 4,23; viii, 3), kemampuan tanah untuk menumbuhkan tanaman tidak segera ada di antara karya penciptaan yang pertama, di mana kekuatan bumi [pertama- tama] hanyalah kekuatan untuk menumbuhkan biji. Dengan cara yang sama malaikat pada saat awal mula penciptaannya mempunyai kesempurnaan kodratnya, tetapi tidak mempunyai kesempurnaan yang [baru dapat] dicapainya setelah proses operasi/ tindakan.

Jawaban terhadap keberatan 3. Malaikat mempunyai dua sisi pengetahuan akan Sang Sabda; pertama adalah secara kodrati dan kedua adalah menurut kemuliaan. Malaikat mempunyai sebuah pengetahuan kodrati yang olehnya ia mengetahui Sang Sabda melalui persamaan/ kemiripan cahaya dengan kodratnya; dan ia mempunyai pengetahuan menurut kemuliaan di mana ia mengetahui Sang Sabda melalui hakekat Tuhan sendiri. Dengan kedua pengetahuan ini malaikat mengetahui segala sesuatu di dalam Sang Sabda; yaitu, tidak dengan sempurna oleh pengetahuan kodratinya, dan dengan sempurna oleh pengetahuan menurut kemuliaan. Oleh karena itu, jenis pengetahuan yang pertama telah ada pada saat penciptaannya; namun jenis yang kedua tidak; [jenis yang kedua ini tercapai] hanya ketika para malaikat menjadi terberkati oleh karena memilih yang Baik. Dan inilah yang disebut sebagai pengetahuan pagi (morning knowledge) bagi mereka.

Jadi kesimpulannya, para malaikat itu diciptakan dengan kondisi rahmat, yang membuat mereka dapat mempunyai pengetahuan akan Allah. Pengetahuan ini tidak diperoleh dari langkah- langkah penelitian/ pembelajaran seperti halnya pada manusia, karena pada malaikat, mereka menerima pengetahuan tersebut berbarengan dengan penciptaan mereka. Kemudian sesaat setelah mereka diciptakan, mereka mengalami semacam pengadilan malaikat (seperti halnya manusia diadili setelah wafatnya) untuk memilih antara menaati Allah atau menolak-Nya. Bagi malaikat, pengadilan ini bukan berkaitan dengan hal percaya atau tidak percaya kepada Allah (karena mereka telah memiliki pengetahuan akan Allah), namun apakah mereka mau taat kepada Allah atau tidak. Sebagian dari para malaikat ini, dipimpin oleh Lucifer, memilih untuk menolak Allah, sehingga memisahkan diri dari Allah; sedangkan sisanya dipimpin oleh Mikael, memilih untuk menaati Allah. Para malaikat yang taat ini kemudian diberi karunia oleh Tuhan untuk melihat Allah dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (beatitude/ beatific vision). Karunia inipun akan diberikan kepada manusia yang ditentukan Allah untuk bersatu dengan-Nya di surga.

Dengan demikian, maka ketika wafat dan menjadi roh, maka keadaan arwah hampir sama dengan para Malaikat, tentu saja dengan kuasa dan kesucian yang berbeda sesuai anugerah dari Tuhan Allah.

Itulah sebabnya kita mengenal Misa Arwah, termasuk didalamnya Misa Arwah 40 hari seperti didalam KGK:



1687 Salam untuk jemaat. Salam imam membuka upacara. Sanak keluarga dari orang yang mati mendapat salam berupa perkataan "hiburan" [dalam arti Perjanjian Baru: kekuatan Roh Kudus dalam harapan]. Bdk. 1 Tes 4:18. Jemaat yang berkumpul dan berdoa juga mengharapkan "kata-kata hidup abadi". Kematian seorang anggota jemaat (atau hari ulang tahun kematian ataupun hari ketujuh dan keempat puluh sesudah kematian) merupakan kesempatan untuk mengarahkan pandangan melewati cakrawala dunia ini. Ia harus mengantarkan umat beriman kepada pengertian yang benar dalam iman akan Kristus yang telah bangkit.

Mempersembahkan Misa bagi kedamaikan kekal jiwa umat beriman yang telah meninggal dunia berkaitan dengan keyakinan kita akan api penyucian. Kita percaya bahwa jika seseorang meninggal dunia dengan iman kepada Tuhan, tetapi dengan menanggung dosa-dosa ringan dan luka akibat dosa, maka Tuhan dalam kasih dan kerahiman Ilahi-Nya akan terlebih dahulu memurnikan jiwa. Setelah pemurnian dilakukan sempurna, maka jiwa akan mendapatkan kekudusan dan kemurnian yang diperlukan agar dapat ikut ambil bagian dalam kebahagiaan abadi di surga.

Sementara tiap-tiap individu menghadirkan diri di hadapan pengadilan Tuhan dan harus mempertanggung-jawabkan hidupnya masing-masing, persekutuan Gereja yang telah dimulai di dunia ini terus berlanjut, kecuali persekutuan dengan jiwa-jiwa yang dikutuk di neraka. Konsili Vatikan II menegaskan, “Itulah iman yang layak kita hormati, pusaka para leluhur kita: iman akan persekutuan hidup dengan para saudara yang sudah mulai di sorga, atau sesudah meninggal masih mengalami pentahiran.” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja no. 51). Oleh sebab itu, sama seperti sekarang kita saling mendoakan satu sama lain dan saling meringankan beban satu dengan yang lainnya, umat beriman di dunia dapat mempersembahkan doa-doa dan kurban guna menolong jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal dunia yang sedang dalam pemurnian, dan tak ada doa dan kurban yang lebih baik yang dapat dipersembahkan selain daripada Kurban Kudus Misa.

Paus Leo XIII dalam ensikliknya, “Mirae caritatis” (1902) dengan indah menguraikan gagasan ini serta menekankan hubungan antara persekutuan para kudus dengan Misa, “Rahmat saling mengasihi di antara mereka yang hidup, yang diperteguh serta diperdalam melalui Sakramen Ekaristi, mengalir, teritimewa karena keluhuran Kurban [Misa], kepada semua yang termasuk dalam persekutuan para kudus. Sebab persekutuan para kudus adalah… saling memberikan pertolongan, kurban, doa-doa dan segala kebajikan di antara umat beriman, yaitu mereka yang telah berada di tanah air surgawi, mereka yang berada di api penyucian, dan mereka yang masih melakukan ziarahnya di dunia ini. Mereka semua ini membentuk satu tubuh, yang kepalanya adalah Kristus dan yang prinsip utamanya adalah kasih. Iman mengajarkan bahwa meskipun kurban agung hanya dapat dipersembahkan kepada Tuhan saja, namun demikian kurban dapat dirayakan dalam rangka menghormati para kudus yang sekarang berada di surga bersama Allah, yang telah memahkotai mereka, guna memperoleh perantaraan mereka bagi kita, dan juga, menurut tradisi apostolik, guna menghapus noda dosa saudara-saudara yang telah meninggal dalam Tuhan namun belum sepenuhnya dimurnikan.” Pikirkan gagasan ini: Misa Kudus melampaui ruang dan waktu, mempersatukan segenap umat beriman di surga, di bumi dan di api penyucian dalam Komuni Kudus, dan Ekaristi Kudus sendiri mempererat persatuan kita dengan Kristus, menghapus dosa-dosa ringan serta melindungi kita dari dosa berat di masa mendatang (bdk Katekismus no. 1391-1396). Oleh sebab itu, mempersembahkan Misa dan doa-doa lain ataupun kurban-kurban demi umat beriman yang telah meninggal dunia merupakan tindakan yang kudus serta terpuji.

Praktek ini bukanlah praktek baru. Katekismus Gereja Katolik menyatakan, “Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan” (no. 1032). Sebenarnya “zaman dahulu” ini berakar bahkan dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Makabe yang Kedua, kita membaca bagaimana Yudas Makabe mempersembahkan kurban penghapus dosa dan doa-doa bagi para prajurit yang meninggal dengan mengenakan jimat-jimat, yang dilarang oleh hukum Taurat; “Mereka pun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya.” (12:42) dan “Dari sebab itu maka [oleh Yudas Makabe] disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka” (12:45).  

Dalam sejarah awal Gereja, kita juga mendapati bukti akan adanya doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Prasasti yang diketemukan pada makam-makam dalam katakomba-katakomba Romawi dari abad kedua membuktikan praktek ini. Sebagai contoh, batu nisan pada makam Abercius (wafat thn 180), Uskup Hieropolis di Phrygia bertuliskan permohonan doa bagi kedamaian kekal jiwanya. Tertulianus pada tahun 211 menegaskan adanya praktek peringatan kematian dengan doa-doa. Lagi, Kanon Hippolytus (± thn 235) secara jelas menyebutkan persembahan doa-doa dalam perayaan Misa bagi mereka yang telah meninggal dunia.

Kesaksian para Bapa Gereja dengan indah mendukung keyakinan ini: St Sirilus dari Yerusalem (wafat thn 386), dalam salah satu dari sekian banyak tulisan pengajarannya, menjelaskan bagaimana pada saat Misa, baik mereka yang hidup maupun yang telah meninggal dunia dikenang, dan bagaimana Kurban Ekaristi Yesus Kristus mendatangkan rahmat bagi orang-orang berdosa, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal. St. Ambrosius (wafat thn 397) menyampaikan khotbahnya, “Kita mengasihi mereka semasa mereka hidup; janganlah kita mengabaikan mereka setelah mereka meninggal, hingga kita menghantar mereka melalui doa-doa kita ke dalam rumah Bapa.” St Yohanes Krisostomus (wafat thn 407) mengatakan, “Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka.”

Orang mungkin bertanya, “Bagaimana jika jiwa orang yang kita doakan telah dimurnikan sepenuhnya dan telah pergi ke surga?” Kita yang di dunia tidak mengetahui baik pengadilan Tuhan ataupun kerangka waktu ilahi; jadi selalu baik adanya mengenangkan saudara-saudara yang telah meninggal dunia serta mempersembahkan mereka kepada Tuhan melalui doa dan kurban. Namun demikian, jika sungguh jiwa yang kita doakan itu telah dimurnikan dan sekarang beristirahat di hadirat Tuhan di surga, maka doa-doa dan kurban yang kita persembahkan, melalui kasih dan kerahiman Tuhan, akan berguna bagi jiwa-jiwa lain di api penyucian.

Sebab itu, kita sekarang tahu bahwa bukan saja praktek ini telah dilakukan sejak masa Gereja Perdana, tetapi kita juga memahami dengan jelas pentingnya berdoa bagi jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal dunia. Jika seseorang meninggal, bahkan jika orang tersebut bukan seorang Katolik, mohon intensi Misa bagi kedamaian kekal jiwanya dan mempersembahkan doa-doa kita jauh lebih bermanfaat serta membantu daripada segala macam kartu simpati atau karangan bunga dukacita. Yang terpenting ialah, hendaknya kita senantiasa mengenangkan mereka yang kita kasihi yang telah meninggal dunia dalam perayaan Misa Kudus dan melalui doa-doa dan kurban kita sendiri guna membantu mereka agar segera mendapatkan kedamaian kekal.

Karena kita mendekati hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman (2 November), sekarang merupakan waktu yang tepat untuk mengenangkan mereka yang kita kasihi yang telah meninggal dunia, baik melalui intensi Misa bagi kedamaian kekal jiwa mereka atau, jika diselenggarakan di paroki, mengenangkan mereka secara khusus dalam Novena Arwah.

Salam

http://styopi.blogspot.com/2013/07/arwah-40-hari.html
avatar
St Yopi

Jumlah posting : 9
Join date : 13.06.13

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tahapan setelah kematian

Post by phooey777 on Mon Jul 15, 2013 5:45 am

Dengan kata lain ...
Bila selama rentang waktu 40 hari itu ada penampakan ....
Arwah yang menampakkan diri tersebut dalam posisi sudah diadili. (Pengadilan khusus oleh Kristus Yesus).

Begitu kan Mod Smile 
avatar
phooey777

Jumlah posting : 4
Join date : 17.06.13

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tahapan setelah kematian

Post by St Yopi on Mon Jul 15, 2013 6:06 am

Tepat sekali.... cheers 
avatar
St Yopi

Jumlah posting : 9
Join date : 13.06.13

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tahapan setelah kematian

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik